Volcano

Belajar Geologi

Collumnar Jointing

Belajar Geologi

Danxia Landform

Belajar Geologi

Pendakian Merbabu

Belajar Geologi

Pumice

Belajar Geologi

Analisa Cekungan

Belajar Geologi

Endapan Epitermal

Belajar Geologi

Mikrodiorit

Belajar Geologi

Minggu, 21 September 2014

Batu Apung (Pumice)

 Batu  Apung (pumice) adalah  hasil  gunung  api  yang  kaya  akan  silika  dan mempunyai struktur porous, yang terjadi karena keluarnya uap dan gas-gas yang larut di dalamnya  pada  waktu  terbentuk,  berbentuk  blok  padat,  fragmen  hingga  pasir  atau bercampur  halus  dan  kasar.
Pumice terjadi bila magma asam muncul ke permukaan dan  bersentuhan dengan udara  luas  secara  tiba-tiba.   Batuan  ini  terbentuk  dari  magma  asam  oleh  aksi  letusan  gunung  api  yang mengeluarkan materialnya ke udara, kemudian mengalami transportasi secara horizontal dan terakumulasi sebagai batuan piroklastik. 
Eksploitasi  secara umum dilakukan dengan tambang terbuka dan secara manual, yaitu tidak membutuhkan peralatan  yang khusus untuk mendapatkannya. Kebanyakan  batu  apung  yang  diperoleh dari  penambangannya  hanya  berupa  batu  apung  yang  dipisah  berdasarkan  ukurannya yang kemudian dijual  dengan variasi ukuran tersebut Teknik Penambangan batuapung terdiri dari Eksplorasi, Penambangan dan Pengolahan. Keterdapatan  batu  apung  di  Indonesia  selalu  berkaitan  dengan  rangkaian  gunung  api  Kuarter  sampai  Tersier  muda. Batu apung lebih banyak digunakan di sektor industri. 
Batu  apung  dapat  diaplikasikan  dalam  sektor  industri  dan  sektor  konstruksi. Aplikasinya  dalam  sektor  industri  cenderung  memproduksi  barang-barang  pelengkap, seperti  cat,  plamur,  dan  semen.  Sedangkan  pada  sektor  konstruksi,  cenderung menghasilkan bahan baku bangunan, seperti agregar ringan beton.Perkembangan  sector  industri  dan  konstruksi,  terutama  di  Negara-negara  maju, telah menunjukkan peningkatan yang berarti, dan hal ini mengakibatkan segi permintaan akan batu apung Indonesia terus meningkat. Dari segi pemasokan, produksi batu apung di Indonesia  sebagian  besar  berasal  dari  daerah  Nusa  Tenggara  Barat  dan  sisanya  dari daerah  ternate,  pulau  Jawa  dan  lain-lain.  Sementara  itu,  impor  batu  apung  dapat dikatakan tidak ada atau untuk kebutuhan di dalam negeri sudah terpenuhi. Di  Lombok  Barat  sedikitnya  ada  20  perusahaan  pengololahan  batuapung  yang tersebar di berbagai wilayah. Namun Saat ini penambangan batuapung di Lombok Barat banyak  menuai  masalah,  terutama  masalah  lingkungan,  dimana  sebagian  besar penambangan dilakukan tanpa  memiliki perijinan  dan  tidak  memperhatikan  kelestarian lingkungan. Limbah  batu  apung  yang  berasal  dari  pengayakan  batu  apung  itu  sendiri  telah merusak  lingkungan.  Hal  ini  dikarenakan  pembuangannya  pada  lahan  yang  masih produktif. Sehingga diperlukan  suatu  usaha untuk menaggulangi limbah tersebut. Salah satunya  yaitu  dengan  penggunaan  limbah  batu  apung sebagai  bahan  bangunan,  berupa batako,  paving  blok,  genteng  beton,  beton  ringan.  Hal  ini  dikarenakan  selain  sebagai salah  satu  penggulangan  limbah  batu  apung,  juga  menjadi  salah  satu  alternatif  bahan bangunan yang ekonomis, serta peluang lapangan kerja bagi masyarakat.
  
Definisi

Batu apung (pumice) adalah jenis batuan yang berwarna terang, mengandung buih yang terbuat dari gelombang berdinding gelas, dan biasanya disebut juga sebagai batuan gelas vulkanik silikat. Batuan  ini  terbentuk  dari  magma  asam  oleh  aksi  letusan  gunung  api yang mengeluarkan materialnya ke udara, kemudian mengalami transportasi secara horizontal dan terakumulasi sebagai batuan piroklastik. Batu apung mempunyai sifat vesicular yang tinggi, mengandung jumlah sel yang banyak (berstruktur selular) akibat ekspansi buih gas alam yang terkandung di dalamnya, dan pada umumnya terdapat sebagai bahan lepas atau fragmen-fragmen  dalam  breksi  gunungapi. Sedangkan  mineral-mineral  yang  terdapat dalam batu apung adalah :
-Feldspar
-Kuarsa
-Obsidian
-Kristobalit
-Tridimit

Proses pembentukan

Pumice terjadi bila magma asam muncul ke permukaan dan bersentuhan dengan udara  luas  secara  tiba-tiba.  Buih  gelas  alam  dengan  gas  yang  terkandung  di dalamnya mempunyai  kesempatan  untuk  keluar  dan  magma  membeku  dengan  tiba-tiba.Pumice umumya  terdapat  sebagai    fragmen  yang  terlemparkan  pada  saat  gunung  api  dengan ukuran  dari  kerikil  sampai  bongkah.  Pumice  umumnya  terdapat  sebagai  lelehan  atau aliran permukaan, bahan lepas, atau fragmen dalam breksi gunung api. Batu apung dapat pula dibuat dengan cara memanaskan obsidian, sehingga gasnya keluar. (gambar.3. jenis material piroklastika, menurut Fisher & Schmincke, 1984)
Pemanasan yang dilakukan pada obsidian  dari  Krakatau, suhu  yang  diperlukan  untuk  megubah obsidian menjadi batu apung rata-rata 880 oC. Berat jenis obsidian yang semula 2,36 turun menjadi 0,416 sesudah perlakuan tersebut oleh sebab itu mengapung didalam air. Batu apung ini mempunyai sifat hydraulis. 
Pumice berwarna putih abu-abu, kekuningan sampai merah, tekstur vesikuler dengan ukuran lubang yang bervariasi baik berhubungan satu sama lain atau  tidak  struktur  skorious  dengan  lubang  yang  terorientasi. (gambar.4. Material gunung api produk letusan Vide Compotn, 1985)
  Kadang-kadang  lubang tersebut terisi oleh zeolit atau kalsit. Batuan ini tahan terhadap pembekuan embun (frost), tidak begitu higroskopis (mengisap air). Mempunyai sifat pengantar panas yang rendah.Kekuatan tekan antara 30-20 kg/cm 2. Komposisi utama mineral silikat amorf. Jenis  batuan  lainnya  yang memiliki  struktur  fisika  dan  asal  terbentuknya  sama dengan  batu  apung  adalah  pumicit,  volkanik  cinter,  dan  scoria.  Sedangkan  mineral- mineral yang terdapat dalam batu apung adalah feldspar, kuarsa, obsidian, kristobalit, dan tridimit.Didasarkan  pada  cara  pembentukan  (desposisi),  distribusi  ukuran  partikel (fragmen)  dan material  asalnya,  endapan  batu  apung dapat  diklasifikasikan  sebagai berikut:
- Sub areal
- Sub aqueous
- New  ardante,  yaitu  endapan  yang  dibentuk  oleh  pergerakan  ke  luar  secara horizontal  dari  gas  dalam  lava,  yang  menghasilkan  campuran  fragmen  dengan berbagai ukuran dalam suatu bentuk matriks.Hasil endapan ulang (redeposit).
Dari  metamorfosisnya,  hanya  daerah-daerah yang relative  ada  gunung api, akan mempunyai endapan batu apung yang ekonomis. Umur geologi dari endapan-endapan ini antara  tersier  sampai sekarang.  Gunung  api  yang  aktif  selama  umur  geologi  tersebut antara lain pada jalur pinggiran laut Pasifik dan jalur yang mengarah dari laut Mediteran ke pegunungan Himalaya kemudian ke India Timur.

Sifat-sifat batu apung

Sifat-sifat kimia batu apung adalah sebagai berikut:
a. Komposisi kimianya:
SiO2                 : 60,00 – 75,00%
Al2O3                   : 12,00 – 15,00%
Fe2O3                   :   0,90 –   4,00%
Na2O               :   2,00 –   5,00%
K2O                 :   2,00 –   4,00%
              MgO                          :   1,00 –   2,00%
CaO                 :   1,00 -    2,00%
            Unsur lainnya     : TiO2, SO3, dan Cl.
b. Hilang pijar (LOI atau loss of ignition) : 6%
c. pH : 5
d. Berwarna terang
e. Mengandung buih yang terbuat dari gelembung berdinding gelas.
f. Sifat fisika:
Bobot isi ruah : 480 – 960 kg/cm3
Peresapan air   : 16,67%
Gravitasi spesifik:0,8 gr/cm3
Hantaran suara            : rendah
Rasio kuat tekan terhadap beban : Tinggi
            Konduktifitas panas : rendah

Ketahanan terhadap api : s.d 6 jam

Selasa, 16 September 2014

Analisa Cekungan

ANALISA CEKUNGAN SEDIMEN


Para ahli sedimentologi mempelajari batuan sedimen untuk mengetahui sejarah geologi dan potensi ekonomi dari batuan tersebut. Untuk itu, diperlukan studi yang bersifat terpadu dari berbagai cabang ilmu geologi, termasuk di dalamnya sedimentologi, stratigrafi, dan tektonik. Dengan demikian dapat diketahui secara menyeluruh batuan sedimen yang mengisi suatu cekungan sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan untuk menginterpretasi sejarah geologi dan membuat evalusasi potensi ekonominya (Boggs, 1995; 2001). Studi terpadu seperti ini dikenal dengan sebutan analisa cekungan sedimen (basin analysis).

Pada perkembangan teori geosinklin, sebagian para ahli geologi berpikir bahwa batuan sedimen yang umumnya diendapkan di laut dangkal pada suatu geosinklin, dan terus mengalami subsiden. Sejalan dengan berkembangnya teori tektonik lempeng pada awal 1960an, pendapat itu mulai tersisih. Saat ini para ahli geologi menemukan berbagai jenis cekungan dengan berbagai mekanisme pembentukannya. Secara umum, titik berat perhatian pada analisa cekungan sedimen adalah pada tektonik global pembentukan cekungan dan berbagai  proses yang mengontrolnya (termasuk perubahan muka laut, pasokan sedimen, dan penurunan cekungan).


Cekungan sedimen adalah suatu daerah rendahan, yang terbentuk oleh proses tektonik, dimana sedimen terendapkan. Dengan demikian cekungan sedimen merupakan depresi sehingga sedimen terjebak di dalamnya. Depresi ini terbentuk oleh suatu proses nendatan (subsidence) dari permukaan bagian atas suatu kerak. Berbagai penyebab yang menghasilkan nendatan, di antaranya adalah: penipisan kerak, penebalan mantel litosper, pembebanan batuan sedimen dan gunungapi, pembebanan tektonik, pembebanan subkerak, aliran atenosper dan penambahan berat kerak. Dickinson (1993) dan Ingersol dan Busby (1995) yang disarikan oleh Boggs (2001) memberikan kemungkinan mekanisme nendatan kerak sebagai tertera dalam Tabel.

KLASIFIKASI CEKUNGAN SEDIMEN
Pembentukan cekungan sedimen erat hubungannya dengan gerakan kerak dan proses tektonik yang dialami lempeng. Ingersol dan Busby (1995) menunjukkan bahwa cekungan sedimen dapat terbentuk dalam 4 (empat) tataan tektonik: divergen, intraplate, konvergen dan transform). Menurut Dickinson, 1974 dan Miall, 1999; klasifikasi cekungan sedimen dapat berdasarkan pada:
  1. tipe dari kerak dimana cekungan berada,
  2. posisi cekungan terhadap tepi lempeng,
  3. untuk cekungan yang berada dekat dengan tepi lempeng, tipe interaksi lempeng yang terjadi selama sedimentasi,
  4. Waktu pembentukan dan basin fill terhadap tektonik yang berlangsung,
  5. Bentuk cekungan.

Selley (1988) memberikan klasifikasi cekungan sedimen secara sederhana seperti dalam Tabel. , sedang Boggs (2001) membagi cekungan sedimen lebih rinci dan lebih komplit.

Mekanisme penendatan disariakan dari Dickinson (1993 dan Ingersol dan Busby (1995)

Penipisan kerak (crustal thinning):
Perenggangan, erosi selama pengangkatan, dan penarikan akibat magmatisme

Penebalan mantel litosper (mantle-lithospheric thickening):
Pendinginan litosper yang diikuti penghentian perenggangan atau pemanasan akibat peleburan adiabatik atau naiknya lelehan astenosper

Pembebanan batuan sedimen dan gunungapi (sedimentary and volcanic loading):
Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan perenggangan litosper regional, tergantung kegetasan litosper,  selama sedimentasi dan kegiatan gunungapi

Pembenan tektonik (tectonic loading):
Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan perenggangan litosper regional, tergantung kegetasan dibawah litosper,  selama pensesaran naik (overthrusting) dan/atau tarikan (underpulling)

Pembenan subkerak (subcrustal loading):
kelenturan litosper selama underthrusting dari litosper padat

Aliran astenosper (asthenospheric flow):
pengaruh dinamik aliran astenosper, umumnya karena penunjaman litosper

Penambahan berat kerak (crustal densification):
Peningkatan berat jenis kerak akibat perubahan tekanan/ temperatur dan/atau pengalihan tempat kerak berberat-jenis tinggi ke kerak berberat-jenis rendah

 Klasifikasi cekungan sedimen (Selley, 1988)

PROSES PENYEBAB
TERBENTUKNYA
TIPE CEKUNGAN
TATAAN TEKTONIK LEMPENG
Crustal sag
Cekungan intrakraton
Intra-plate collapse

Puntir (tension)
Epicratonic downward
Rift
Tepian lempeng pasif (passive plate margin)
Sea-floor spreading

Tekanan (compression)
Palung (trench)
Busur depan (fore-arc)
Busur belakang (back-arc)

Subduksi (tepian lempeng aktif)
Wrenching
Strike-slip
Gerakan mendatar lempeng

Klasifikasi cekungan menurut Boggs (2001)



TATAAN TECTONIK
TIPE CEKUNGAN

Divergen

          Rift: terrestrial rift valleys; proto-oceanic rift valleys

Antar-lempeng

Cekungan beralaskan kerak benua/peralihan: cekungan intrakraton,       paparan benua, sembulan benua (continental rises) dan undak, pematang benua.
Cekungan beralaskan kerak samodra: cekungan samodra aktif, kepulauan samodra, dataran tinggi dan bukit aseismik (aseismic rigde and plateau)

Konvergen
Cekungan akibat subduksi: palung, cekungan lereng palung, cekungan busur depan, cekungan intra-busur, cekungan busur belakang.
Cekungan akibat tabrakan: cekungan retroac forels, peripheral foreland basin, cekungan punggung babi (piggyback basin), broken forland

Tranform
Cekungan akibat sesar mendatar: cekungan transextensional, transpressional, transrotaional

Hybrid
Cekungan akibat berbagai sebab: cekungan-cekungan intracontinental wrench, aulacogen, impactogen, successor



Buku ini tidak membahas secara rinci semua jenis cekungan sedimen, akan tetapi beberapa cekungan yang dianggap penting di Indonesia akan dibahas secara singkat di bawah ini (sebagian besar disarikan dari Boggs, 2001).

Cekungan Intrakraton (Intracratonic Basin)
Cekungan intrakraton umumnya cukup besar terletak di tengah suatu benua yang jauh dari tepian lempeng. Subsiden pada cekungan jenis ini umumnya disebabkan oleh penebalan mantel-litosfir dan bembebanan oleh batuan sedimen atau gunungapi (Boggs, 2001). Beberapa cekungan intrakraton ini diisi oleh endapan klastika laut, karbonat, atau sedimen evaporit yang diendapkan mulai dari laut epikontinental sampai darat. Cekungan tua jenis ini di antaranya adalah Cekungan Amadeus dan Carpentaria di Australia, Cekungan Parana di Amerika Latin, dan Cekungan Paris di Perancis. Sedangkan contoh cekungan modern jenis ini adalah Cekungan Chad di Afrika.

Renggang (Rift)
Cekungan akibat perenggangan ini umumnya sempit tetapi memanjang, dibatasi oleh lembah patahan. Ukuran berkisar dari beberapa km sampai sangat lebar seperti pada Sistem Renggangan Afrika Timur, dimana mempunyai lebar 30-40 km dan panjang hampir 300 km. Cekungan ini dapat terbentuk oleh berbagai tataan tektonik, namun yang paling umum oleh divergen. Perenggangan lempeng benua seperti antara Amerika Utara dan Eropa terjadi pada Trias menghasilkan Punggungan Tengah Atlantik (Mid-Atlantic Ridge). Sistem renggangan pada Afrika Timur merupakan contoh sistem renggangan modern.


Aulakogen (Aulacogen)

Aulakogen adalah jenis khusus dari renggangan yang menyudut besar terhadap tepian benua, dimana umumnya dianggap sebagai renggangan tetapi gagal dan kemudian diaktifkan kembali selama tektonik konvergen. Palung yang sempit tapi panjang dapat menggapai sampai kraton benua dengan sudut besar dari lajur sesar. Sedimen yang mengisi cekungan jenis ini dapat berupa sedimen darat (misalnya kipas aluvium), endapan paparan, dan endapan yang lebih dalam seperti endapan turbit. Contoh aulakogen di antaranya Renggangan Reelfoot yang berumur Paleozoik dimana Sungai Misisipi mengalir dan Palung Benue yang berumur Kapur dimana Sungai Niger membelahnya.

Cekungan tepian benua
Cekungan tepian benua dicirikan oleh kehadiran baji yang sangat besar dari sedimen yang ke arah laut dibatasi oleh lereng landai dari benua dan sembulan. Ketidakterusan struktur dijumpai di bawah sistem ini, antara kerak benua normal dan kerak peralihan. Sedimen terendapkan pada sistem ini: pada paparan berupa pasir neritik dangkal, lumpur, kabonat dan endapan evaporasi; pada lerengan terdiri atas lumpur hemipelagik; dan pada sembulan benua berupa endapan turbit. Cekungan renggangan (rift basin) dapat berhubungan dengan cekungan tepian benua. Contoh yang baik dari cekungan jenis ini adalah pantai Amerika dan bagian selatan-timur Kanada (Cekungan Blake Plateau, Palung Lembah Baltimor, Cekungan George Bank dan Cekungan Nova Scotian) yang terbentuk pada akhir Trias- awal Jura oleh renggangan dan terpisahnya Pangea. Beberapa cekungan itu terpisahkan dari laut membentuk lapisan tebal dari endapan klastik arkosik dan endapan lakustrin; berselingan dengan batuan gunungapi basa. Cekungan yang lain berhubungan dengan laut, membentuk sedimen yang berkisar dari endapan evaporit sampai delta, turbit, dan serpih hitam.

Cekungan berhubungan dengan subduksi

Subduksi ditunjukkan dengan aktifnya tepian benus yang mana umumnya dicirikan oleh adanya palung laut dalam, busur gunungapi aktif, rumpang parit-busur (arc-trench gap) yang memisahkan ke duanya. Tataan subduksi terjadi lebih banyak pada tepian benua dibandingkan pada besur samodra.

Sedimen terendapkan pada sistem subduksi ini lebih dikuasai oleh endapan silisiklastik yang umumnya berupa batuan gunungapi berasal dari busur gunungapi. Endapan ini dapat berupa pasir dan lumpur yang terendapkan pada paparan, lumpur dan endapan turbit terendapkan dalam air yang lebih dapam pada lereng, cekungan, dan parit. Sedimen pada parit dapat berupa endapan terigen yang terangkut oleh arus turbit dari daratan, bersamaan dengan sedimen dari lempeng samodra yang tersubduksikan. Ini umumnya membentuk kompleks akrasi. Batuan campuraduk (melange) dapat terbentuk pada daerah akrasi ini, yang dicirikan oleh percampuran dari batuan berbagai jenis yang tertanam pada masa dasar yang mengkilap (sheared matrix).

Contoh yang baik dari sistem subduksi ini adalah subduksi Sumatra, Jepang, Peru, Chili dan Amerika Tengah. Contoh cekungan busur muka purba di antaranya adalah cekungan busur muka Great Valley, Kalifornia; Midland Valley, Inggris dan Coastal range, Taiwan. Contoh cekungan busur belakang di antaranya terjadi pada Jura Akhir – Awal Kapur terbentuk di belakang Busur Andean di Chili selatan.

Cekungan berhubungan patahan mendatar/transform

Patahan yang dapat membentuk cekungan ini adalah patahan mendatar yang menoreh dalam kerak sampai membatasai dua lempeng yang berbeda (transform fault) dan patahan yang terbatas dalam suatu lempeng dan hanya menoreh bagian atas kerak (Sylvester, 1988). Cekungan yang berhubungan dengan patahan mendatar regional terbentuk sepanjang punggung pemekaran, sepanjang batas patahan antar lempeng, pada tepian benua dan daratan dalam lempeng benua. Gerakan sepanjang patahan mendatar regional dapat membentuk berbagai cekungan nendatar (pull-apart basin). Cekungan yang dibentuk karena patahan mendatar umumnya kecil, garis tengahnya hanya beberapa puluh kilometer, walaupun ada beberapa yang sampai 50 km. Karena patahan mendatar terbentuk pada berbagai tataan geologi, cekungan ini dapat diisi sedimen laut maupun darat. Ketebalan sedimen cenderung sangat tebal, karena kecepatan sedimentasi yang tinggi yang dihasilkan oleh erosi dari daerah sekitarnya yang berelevasi tinggi, dan boleh jadi ditandai dengan banyaknya perubahan fasies secara lokal. Di Indonesia Cekungan jenis ini banyak terdapat sepanjang Patahan Sumatra.


TEKNIK ANALISA CEKUNGAN

Sedimen yang mengisi suatu cekungan merupakan faktor yang sangat penting untuk dipelajari dalam analisa cekungan sedimen yang bersangkutan. Sedimen tersebut dipelajari bagaimana proses terbentuknya, sifat batuan dan aspek ekonominya. Proses pembentukan sedimen meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan pengendapan, sifat-sifat fisik, kimia dan biologi batuan; lingkungan pengendapan, dan posisi stratigrafi. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengendapan dan sifat sedimen adalah:
  1. litologi batuan induk, akan sangat mempengaruhi komposisi sedimen yang berasal dari batuan tersebut;
  2. topografi dan iklim dimana batuan induk berada, mempengaruhi kecepatan denudasi yang menghasilkan sedimen yang kemudian diendapkan dalam cekungan;
  3. kecepatan penurunan cekungan bersamaan dengan kecepatan kenaikan/penurunan muka laut; dan
  4. ukuran dan bentuk dari cekungan.

Analisa cekungan merupakan hasil interpretasi yang berdasarkan pada proses sedimentasi, stratigrafi, fasies dan sistem pengendapan, peleoseanografi, paleogeografi, iklim purba, analisa muka laut, dan petrografi/mineralogi (Klein, 1995; Boggs, 2001). Penelitian sedimentologi dan analisa cekungan sekarang ini ditikberatkan pada analisa fasies sedimen, siklus subsiden, perubahan muka laut, pola sirkulasi air laut, iklim purba, dan sejarah kehidupan.

Model pengendapan semakin meningkat digunakan untuk mengetahui lebih baik tentang pengisian cekungan dan pengaruh berbagai parameter pengisian cekungan seperti pasokan sedimen, besar butir, kecepatan penurunan cekungan, dan perubahan muka laut.

Sebagai bahan untuk analisa cekungan, dibutuhkan berbagai data, mulai data dari singkapan sampai data bawah permukaan. Data tersebut termasuk data hasil pemboran dalam, studi polarisasi magnetik dan eksplorasi geofisika. Pembahasan berikut ini secara singkat akan diketengahkan teknik analisa cekungan yang umum dilakukan.

Penampang Stratigrafi
Data lengkap dan akurat tentang sedimen dari singkapan maupun inti bor, baik ketebalan maupun litologi setiap himpunan sedimen, merupakan hal yang sangat penting untuk interpretasi sejarah bumi. Untuk menghimpun data tersebut diperlukan pengukuran dan pemerian secara teliti dan akurat pada singkapan dan/atau inti bor. Kegiatan menghimpun data ini jamak disebut pembuatan penampang stratigrafi terukur, yang meliputi pemerian litologi, sufat-sifat perlapisan, dan kenampakan lainnya dari batuan. Pemakaian teknik tertentu dalam melakukan pengukuran penampang stratigrafi sangat tergantung pada kegunaan hasil pengukuran dan keadaan singkapan diukur di alam. Kottlowski (1965) menunjukkan beberapa cara dan peralatan untuk melakukan pembuatan penampang stratigrafi.

Sejumlah penampang stratigrafi dapat dipakai dalam pembuatan penampang melintang stratigrafi yang sangat bermanfaat dalam korelasi stratigrafi, interpretasi struktur dan perubahan fasies yang boleh jadi diikuti oleh perubahan dari lingkungan dan arti ekonomis. Penampang melintang digambarkan segai ilustrasi yang menggambarkan keadaan lokal dari suatu cekungan, sering pula disiapkan dalam rangka pembuatan peta fasies, atau bahkan menggambarkan runtunan stratigrafi seluruh cekungan. Pada umumnya penampang stratigrafi menggambarkan dua demensi dari litologi dan/atau ciri struktur dari suatu unit stratigrafi atau unit yang memotong suatu wilayah geografi.

Diagram Pagar
Informasi stratigrafi dapat pula disajikan dalam diagram pagar yang menggambarkan pandangan tiga dimensi stratigrafi dari suatu daerah atau wilayah tertentu. Dengan cara ini hubungan antar satuan stratigrafi dapat dilihat dengan jelas. Sayangnya, bagian pagar depan akan menutup sebagian belakangnya; sehingga menyulitkan pembuat untuk menyuguhkan gambar yang baik dan jelas.

Peta Struktur
Untuk menggambarkan bentuk dan orientasi cekungan serta geometri pengisian cekungan diperlukan peta struktur. Pada dasarnya, kontur pada peta ini adalah kumpulan titik-titik yang mempunyai elevasi sama dari bagian atas atau bawah suatu datum tertentu. Struktur lokal seperti antiklin dan sinklin dapat dengan mudah dikenali pada peta jenis ini. Peta struktur ini sangat berguna dalam eksplorasi baik hidrokarbon maupun mineral dan batubara. Dasar cekungan dapat digambarkan dengan peta ini, apabila menggunakan datum bagian bawah lapisan tertua pengisi cekungan yang bersangkutan. Dengan begitu topografi purba dapat diinterpretasi dengan mudah.

Peta Isopak
Peta isopak adalah suatu peta yang konturnya menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketebalan sama dari suatu lapisan atau satuan batuan. Ketebalan suatu satuan batuan tergantung dari kecepatan pasokan sedimen dan ruang yang tersedia pada cekungan. Ruang pada cekungan merupakan fungsi dari geometri cekungan dan kecepatan subsiden cekungan. Bagian yang menebal secara abnormal merupakan pusat pengendapan, sebaliknya yang menipis abnormal adalah daerah yang sebelum pengendapan merupakan tinggian atau sudah lebih banyak tererosi setelah pengendapan. Dengan peta jenis ini dapat digambarkan keadaan cekungan sebelum dan selama pengendapan, sehingga apabila dilakukan analisa peta isopak untuk setiap satuan pada cekungan dimana mereka diendapkan, akan mendapatkan informasi perubahan struktur cekungan dari waktu ke waktu. 

Peta Paleogeologi
Peta paleogeologi adalah peta yang menggambarkan kondisi geologi tertentu di bawah atau di atas suatu unit tertentu. Sebagai contoh, kita dapat mengupas semua satuan batuan mulai dari unit stratigrafi tertentu untuk melihat satuan batuan di bawah unit stratigrafi tertentu tersebut. Kemudian kita gambarkan peta geologi di atas alas satauan batuan tersebut. Peta semacam ini disebut peta superkrop (supercrop map). Dengan yang cara sama, satuan batuan di atas suatu formasi atau tubuh batuan tertentu dapat pula digambarkan. Peta superkrop umumnya dibuat pada batas ketidakselarasan, tetapi dapat pula dibuat pada suatu satuan batuan yang mempunyai ciri tertentu. Manfaat peta jenis ini adalah untuk interpretasi pola aliran purba, pola pengisian cekungan, pergeseran garis pantai, penimbunan secara gradual dari paleotopografi.

Peta Litofasies
Peta fasies menggambarkan vareasi sifat litologi atau biolofi dari satuan stratigrafi tertentu (Boggs, 2001). Peta fasies yang umum dipakai adalah peta litofasies dimana menyajikan beberapa aspek komposisi dan tekstur batuan. Peta litofasies yang umum dipakai adalah:
a. peta perbandingan klastik (clastic-ratio map) dan
b. peta litofasies tiga komponen.
Peta perbadingan klastik menunjukkan kontur dari perbandingan klastik yang sebanding. Sedangkan perbandingan klastik adalah perbandingan dari jumlah kumulatif ketebalan endapan klastik dan jumlah kumulatif endapan non-klastik, sebagai contoh:

(konglomerat + batupasir + serpih)
------------------------------------------
(batugamping + dolomit + evaporit + batubara)

Peta jenis ini sangat bermafaat untuk melihat hubungan litologi dengan tepi cekungan dimana sedimen tersebut diendapkan. Tentu saja bagian yang nilai perbandingan klastiknya relatif tinggi menunjukan bagian tersebut dekat dengan asal batuan atau sangat mungkin tepi cekungan. Sedangkan bagian yang nilai perbandingan klastiknya rendah menunjukkan bagian tersebut relatif jauh dari tepi cekungan. Dengan peta ini juga dapat diketahui arah tranportasi sedimen secara regional dalam cekungan itu.

Peta litofasies tiga komponen menyajikan rata-rata atau pola kelimpahan relatif dalam suatu satuan stratigrafi dari tiga komponen litofasies (Boggs, 2001).

Analisa Arus Purba
Analisa arus purba adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui arah aliran dari arus purba pembawa sedimen ke dalam suatu cekungan pengendapan (Boggs, 2001). Tentu saja, dengan teknik ini akan diketahui juga arah kemiringan lereng purba baik lokal maupun secara regional dan sekaligus asal dari sedimen yang terendapkan.

Analisa arus purba dapat dilakukan dengan mempelajari secara mendalam dari berbagai struktur sedimen, seperti silang siur, alur sungai, dan ripple mark. Geometri dan kecenderungan dari suatu unit batuan sering dapat membantu untuk interpretasi lingkungan pengendapan dan arah arus purba. Orientasi dari kepingan batuan berbutir besar (seperti kerakal dan brangkal), ketebalan lapisan, vareasi litologi dalam suatu lapisan dapat dipakai untuk interpretasi arah arus purba dan lokasi asal atau sumber batuan.

Studi Provenan (Asalmuasal) Batuan
Komposisi dari suatu batuan sedimen klastika yang mengisi suatu cekungan sangat dipengaruhi oleh komosisi batuan sumbernya. Komposisi itu tentu saja juga dipengaruhi oleh pelapukan dan iklim daerah yang bersangkutan. Studi provenan meliputi: (a) Komposisi litologi dari asal batuan, (b) tataan tektonik dari daerah asal batuan, dan (c) iklim, topografi, dan kemiringan daerah asal batuan (Boggs, 2001).

Vareasi litologi dari batuan asal dipelajari dari berbagai jenis mineral dan kepingan batuan yang dijumpai pada suatu batuan sedimen klastika.

Jumat, 07 Februari 2014

SEDIMENTOLOGY AND STRATIGRAPHY By GARY NICHOLS

Buku Sedimentologi dan Stratigrafi ini merupakan salah satu dari beberapa buku yang ditulis oleh Gary Nichols, pertama kali dipublikasikan pada tahun 2009
Seperti judul diatas buku ini menjelaskan tentang Sedimen dan kaitannya dengan Stratigrafi, mulai pengenalan apa itu sedimen, transportasi sedimen, lingkungan pengendapan, sumber material asal sedimen, struktur sedimen dan kaitan aspek-aspek sedimen tersebut dengan konsep-konsep stratigrafi seperti : Biostratigrafi, Litostratigrafi, serta penentuan Sequence Stratigrafi. Untuk kejelasan selanjutnnya bisa langsung mengunduh E-booknya melalui link dibawah ini. :))

Sabtu, 01 Februari 2014

Principles of Sedimentology and Stratigraphy SAM Boggs, Jr

Principles of Sedimentology and Stratigraphy merupakan salah satu buku yang ditulis oleh SAM Boggs, Jr. Buku ini memaparkan proses pembentukan, jenis,  batuan sediment pola distribusi dan proses pengendapan serta kaitan antara Sedimentologi dengan studi Stratigrafi. Untuk pemahaman yang lebih jelas lagi bisa langsung unduh E-Book dibawah ini :)

Download

Selasa, 03 Desember 2013

Sedikit Cerita Intrusi Mikrodiorit Godean

Definisi Mikrodiorit

Dalam kehidupan sehari-hari batuan banyak memegang peran penting dalam hampir dikeseluruhan aktifitas Manusia, mulai dari penggunaan secara langsung maupun dengan bantuan pengolahan serta unsur-unsur yang bersifat ekonomis dalam batuan, salah satunya adalah batuan Mikrodiorit serta pemanfaatannya sebagai bahan kontruksi bangunan serta bahan utama pembuatan genteng.
Batuan beku intermediet plutonik antara lain dalam kelompok ini berada ditengah antara kelompok batuan asam dan kelompok batuan basa sehingga komposisi kimia ataupun minerologi berada di tengah dari kedua kelompok itu. Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorit, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah) dan lain-lain. Diorit terdapat sebagai stock, dike ataupun sill, juga sebagian kecil berasosiasi dengan tubuh intrusi yang besar dari batuan asam atau basa. Tekstur dari diorit adalah holokirstalin, equigranular dan faneritik serta berstruktur masif. Dan banyak pula yang bertekstur porpiritik dengan penokris berbentuk euhedral. Warna abu-abu gelap, hitam kehijau-hijauan, abu-abu ke hitam. Diorit mempunyai tekstur mirip granit, tetapi komposisinya tidak sama . Mineral utamanya adalah Na-Plogioklas feldspar, sedangkan kuarsa dan K-Feldspar merupakan mineral minor ada juga amfibol didalamnya. Komposisi kimia dari kelompok diorit ini tidak ada yang menonjol hanya sebagian kecil saja, ada perbedaan hal ini disebabkan pengaruh dari magma yang bersifat asam atau basa. Dalam kasus ini penamaan batuan mikrodiorit dipakai karena ukuran mineral penyusun batuannya berukuran mikro. 
Lokasi dan Morfologi
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, tepatnya di gunung Berjo sekitar 12 km kearah barat dari kota Yogyakarta. Satuan geomorfologi di daerah penelitian yaitu satuan bukit intrusi. Satuan ini memiliki bentuk bukit membulat dengan elevasi 121-174 m dan beda elevasi 13-61 m. Dengan merujuk pada klasifikasi oleh van Zuidam (1983), maka satuan ini memiliki sudut kelerengan antara 300-450 termasuk relief terjal. Satuan bukit intrusi tersusun oleh mikrodiorit biotit dan mikrodiorit piroksen (Iwan,2000). Pelapukan yang berlangsung dengan intensif yaitu berupa speroidal weathering dapat terlihat dari tebal tanah yang mencapai 2 meter. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda berturut-turut tersusun oleh satuan batulempung,satuan batuan mikrodiori-andesit,endapan lempung-pasiran, dan endapan pasir-krakal. Kesebandingan stratigrafi daerah penelitian dengan stratigrafi daerah penelitian termasuk dalam Formasi Nanggulan, Formasi Andesit Tua, Endapan Kuarter Merapi (Rahardjo,1995).
Genesa Intrusi Mikrodiorit
Sejarah geologi daerah penelitian telah dimulai sejak Eosen tengah dengan diendapkannya satuan batulempung pada lingkungan laut dangkal. Kemudian pada Oligosen akhir terjadi aktivitas tektonik berupa penunjaman lempeng samudra Indo-Australia terhadap lempeng benua Eurasia. Penunjaman tersebut mengakibatkan munculnya aktivitas magmatik bersifat kalk-alkali dan menghasilkan intrusi satuan mikrodiorit-andesit yang menerobos satuan betulempung. Sementara itu aktivitas tektonik berupa penunjaman lempeng masih terus berlangsung sehingga terbentuk kekar gerus pada satuan mikrodiorit-andesit. Rekahan tersebut membentuk kekar-kekar gerus yang kemudian diisi oleh larutan hidrotermal. Pada Miosen tengah daerah penelitian terangkat ke permukaan dan menjadi daratan. Pada Plestosen terjadi aktivitas gunung api yang mengeluarkan material-material berukuran pasir-kerakal dan diendapkan sampai di daerah penelitian yang kemudian membentuk endapan lempung. Proses pelapukan yang intensif menyebabkan satuan batulempung dan satuan mikrodiorit-andesit lapuk sehingga membentuk tanah yang tebal. Tanah hasil pelapukan digunakan masyarakat untuk pembuatan batu bata dan genteng sedangkan singkapan batuan mikrodiorit-andesit digunakan masyarakat sekitar untuk membuat batu nisan dan sebagai pondasi. 
Pemanfaatan Intrusi Mikrodiorit
Penambangan batu mikrodiorit dilakukan secara tradisional dan sederhana menggunakan palu,cangkul dan pahat. Dilakukan dengan cara side hill type.  Mikrodiorit menunjukkan warna segar abu-abu tua kehijau-hijauan. Warna lapuk coklat kekuning-kuningan. Tekstur porfiritik dengan struktur kekar tiang. Hasil penambangan mikrodiorit digunakan untuk pondasi rumah, pondasi bangunan, kijing, dll. Sementara hasil pelapukan mikrodiorit digunakan untuk pembuatan genteng dan batu bata kemudian di distribusikan di daerah sekitar Godean sampai Kabupaten Salatiga. Berdasarkan klasifikasi relief seperti diusulkan oleh Van Zuidam (1983), besar slope di Gunung Berjo sebesar 30o – 45o termasuk terjal. Kondisi lereng yang terjal di Gunung Berjo didukung dengan adanya penambangan mikrodiorit menjadikan daerah tersebut rawan longsor. 




Translate